Sejarah

Haji

Kajian

Ijin

Umrah

Alumni

Cinderamata

Berita

Recent Posts

Rabu, 22 Maret 2017

Tabung Haji Malaysia Tingkatkan Kepemilikan Saham di Proton Melalui DRB-Hicom Bhd








PHA3M -- Sumbangsih jamaah Malaysia dalam pembangunan ekonomi negaranya semakin nyata.

Dalam langkah terakhir (baca) Tabung Haji malaysia dilaporkan meningkatkan kepemilikan sahamnya di perusahaan otomotif setem Proton.

Peningkatan saham itu dilakukan di DRB-Hicom Bhd yang memiliki Proton.

Tabung Haji Malaysia dikenal dengan kemampuan untuk mengelola dana jamaah haji dengan baik.

Selain memastikan kepuasan jamaah dalam pelayanan, para haji juga menjadi investor secara tidak langsung bagi proyek-proyek prestisiun Malaysia dan menghasilkan keuntungan yang cukup menggembirakan.   (*)

Home | UD Paju Marbun | Sultan Group | IMECH | BeritaDekhoCom | TobaPosCom | KBAA


Bonus: Pelaksanaan haji para Presiden Indonesia.

Sabtu, 11 Maret 2017

Kunjungan Raja Salman dan Ekonomi Haji

PHA3M -- Memasuki minggu kedua kunjungan fenomenal dan bersejarah Raja Salman bin Abdul Aziz al- Saud ke Tanah Air sejak Rabu (1/3), sejumlah kerja sama telah ditandatangani oleh Indonesia dan Arab Saudi dan menjadi momentum peningkatan relasi perdagangan bilateral dua negara.

Setidaknya 11 kesepakatan bilateralIndonesia-ArabSaudidi tingkat kementerian dan lem b - aga berhasil disepakati de ngan nilai pembiayaan proyek sebesar USD7 miliar. Ditambah kese - pakatan business to business antar akadin dengan mitra dari Arab Saudi yang mencapai USD2,4 miliar, total investasi hinggakemarinsetidaknya telah mencapai USD9,4 miliar atau sekitar Rp125 triliun. Meski angka ini masih jauh di bawah estimasi nilai kerja sama yang diumumkan pejabat Indonesia sebelumnya (sebesar USD25 miliar atau Rp334 triliun), total nilai investasi ini sudah cukup fantastis.

Terlebih jika dibandingkan nilai inves - tasi Arab Saudi di Indonesia sebelumnya yang hanya sebesar USD900.000 pada 2016 dan USD30 juta pada 2017. Walaupun kesepakatan ter - sebut di atas menyangkut ber - bagai sektor—perdagangan dan investasi, kesehatan, keaman - an, pendidikan, keagamaan, hingga pariwisata, salah satu poin yang paling sering men - dapat perhatian masyarakat dan pemerintah (bahkan se - belum kedatangan sang Raja) adalah persoalan kuota haji. Untungnya, pemerintah telah menegaskan bahwa negara kita memperoleh pengembalian kuota haji ke tingkat normal (211.000) dan kuota tambahan tahun 2017 (10.000) menjadi total 221.000 jamaah.

Tulisan berikut mencoba mengulas bahwa kerja sama ekonomi di bidang haji dan umrah memiliki prospek yang jauh lebih besar dari sekadar per soalan kuota haji, dan di - yakini dapat memberikan ke - untungan ekonomis yang lebih besar bagi dua negara.

Visi 2030 dan Prospek Ekonomi Haji-Umrah Saudi

Sebagaimana jamak di - ketahui, sejak beberapa tahun terakhir, Arab Saudi juga sedang menghadapi tekanan ekonomi yang sebagian besar berasal dari penurunan harga minyak dunia selama 2, 5 tahun terakhir. Karena itulah, sejak April 2016 Saudi telah mencanang - kan transformasi ekonomi, dari ekonomi berbasis minyak men - jadi ekonomi yang lebih ter - diversifikasi—demi mengu - rangi ketergantungan negara ter sebut pada sumber pen - dapatan minyak.

Transformasi ekonomi yang di canangkan Pangeran Muhammed bin Salman— putra Raja Salman—dan di - kenal dengan Visi 2030 ini juga menegaskan ambisi Saudi men - jadi jantung jazirah Arab dan dunia Islam, selain tetap men - jadi pusat kekuatan investasi dan pusat yang meng hubung - kan tiga benua sekaligus: Asia, Eropa, dan Afrika. Salah satu sasaran dari Visi 2030 tersebut adalah pening - kat an kapasitas wisatawan umrah, dari hanya sekitar 8 juta menjadi 30 juta setiap tahun. Visi 2030 ini juga memerlukan investasi besar-besaran di bi - dang infrastruktur, perumah an, pendidikan, energi, pari wisata, dan perbankan.

Sebenarnya, bagi Saudi, haji adalah tulang punggung utama perekonomian negara ini sejak dulu, sebelum industri minyak mereka berkembang pesat. Saat industri minyak Saudi mengalami masa keemasan dan harga minyak mencapai puncak - nya, Pemerintah Saudi memang tidak lagi banyak bergantung pada pendapatan haji dan umrah, tetapi industri ini masih merupakan sumber pendapatan utama bagi pihak swasta di dalam negeri. Untuk dapat menunaikan ibadah haji, seorang jamaah haji memang harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh setiap indi vidu adalah sebesar USD6.000. Karena itu, tak mengherankan jika dalam ajaran Islam sendiri ibadah haji ini sering diidentikkan dengan konsep istitha’ah (mampu). Salah satu makna dari ter ma istitha’ah ini adalah kemam pu an eko nomi karena ibadah haji meniscayakan kemam puan menyediakan biaya yang cukup besar. Saat ini potensi haji dan umrah bagi Saudi memang masih sangat bernilai: haji dan umrah bahkan menjadi sektor terpenting ke dua bagi Saudi setelah minyak dan gas.

Mengutip satu laporan dari laman Forbes, pada 2014 saja pendapatan Saudi dari ga bungan haji dan umrah diperkirakan sebesar USD 18,6miliar— yang USD8,5 miliar di antaranya berasal dari penyeleng garaan haji saja. Dengan jumlah jamaah haji dan umrah yang hingga kini telah mencapai sedikitnya 12 juta jamaah per tahun, pendapatan di sektor ini setara 10% dari pendapatan minyak negara tersebut serta memberi andil sekitar 3% dari total PDB Arab Saudi. Sekitar 40% pendapatan tersebut berasal dari sektor perumahan, disusul suvenir/ hadiah (15%), makanan (10%), dan sisanya dari layanan lain.

Peluang Indonesia

Perubahan orientasi ke bijakan ekonomi Saudi yang kini lebih inklusif dan ter diver sifikasi, serta potensi ekonomi haji dan umrah yang demikian besar, tentumerupakanpe luanguntuk meningkatkan kerja sama dua negara di ber bagai sektor yang terkait pe nyelenggaraan haji dan umrah. Kerja sama investasi di bidang real estate (hotel) untuk kepentingan pemondokan para jamaah adalah salah satu contohnya.

Potensi pendapatan dari sektor ini bukan hanya dari jamaah Indonesia—yang jum - lah nya terus meningkat dan akan menjadi captive market, tapi juga bagi jamaah haji dan umrah yang berasal dari luar Indonesia. Dengan jumlah jamaah haji dan umrah ke Saudi yang di - proyeksikan akan terus me - ning kat, total permintaan un - tuk kebutuhan akomodasi akan menjadi pendorong utama kebutuhan hotel di Saudi secara ber - kesinam bungan, termasuk untuk kepentingan sewa para jama ah dari b e r b a g a i negara.

Dari kunjungan Raja Salman saat ini, peluang investasi hotel dan pemondokan di Arab Saudi sebenarnya se - makin terbuka lebar dengan ditan da tangani nya kese - pakat an Presiden Jokowi dan Raja Salman untuk meningkatkan kerja sama per dagangan dan investasi, ter utama di bidang infrastruktur dan perumahan. Apalagi, hal ini langsung d - itindaklanjuti oleh pelaku bisnis sehari setelahnya, me lalui kesepakatan senilai USD2 miliar (Rp26,6 triliun) antara Wijaya Karya dengan salah satu perusahaan Arab Saudi untuk membangun 8.000 perumahan beserta infrastrukturnya di Arab Saudi.

Meskipun kerja sama semacam ini bukan hal baru karena telah banyak per usahaan konstruksi asal Indo nesia yang mendapat proyek besar di Saudi, hal ini tetap da pat menjadi momentum yang tepat untuk merealisasikan ke inginan kita untuk mem bangun jaringan bis - nis hotel di Saudi sebagai mana telah dirintis Malaysia melalui Tabung Haji. Kerja sama lain terkait hajiumrah adalah pada pengem - bangan produk UMKM, ter - masuk ekspor gift, suvenir, dan kerajinan tangan. Meski tidak ada perkiraan resmi mengenai nilai perdagangannya, sektor ini mendatangkan ratusan juta dolar setiap tahun.

Apalagi, se - bagaimana diketahui, harga su - ve nir di Mekkah terbilang tinggi. Sebagian besar produk se perti sajadah dan manik-manik tidak dibuat di Saudi, melainkan di ne - gara lain seperti China. Sektor produk makanan halal juga mestinya terus di dorong. Keberhasilan produk mi Indo - food, yang berhasil menjadi top of mind produk mi instan di negara-negara Timur Tengah dengan tagline yang sangat populer, Ana Uhibbu Indomie, seharusnya diikuti oleh produkproduk kuliner lain di Tanah Air, yang terus berkembang dan berevolusi.

Fenomena kuliner Salad Solo yang demikian di - gemari Raja Salman saat jamu - an makan siang di Istana Bogor minggu lalu adalah sebagian contoh yang dapat kita promosikan segera. Tentu saja masih banyak sektor lain yang cukup menjan - jikan yang terkait ibadah hajiumrah ini. Di Saudi sendiri beberapa sektor telah terbukti memperoleh pendapatan yang cukup besar selama pelak sana - an ibadah haji seperti restoran, agen perjalanan, maskapai pe - nerbangan, hingga perusahaan telekomunikasi.

Pada kunjungan Raja Salman ke Indonesia yang penuh euforia kali ini, kita telah berusaha dan sukses menampilkan potensi kekuatan ekonomi, stabilitas politik, hingga keramahan dan keragaman Islam dan budaya Indonesia. Kini setelah kafilah Khadim al-Haramain berlalu, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana prospek kerja sama ekonomi di bidang haji-umrah yang demikian besar ini dapat ditindaklanjuti oleh negara yang telah diklaim sang Raja sebagai rumah keduanya.

Ahmad Zaky
Founder & Managing Partner Tosora Solutions , Jakarta dan Wakil Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Batang  (sumber)

Home | UD Paju Marbun | Sultan Group | IMECH | BeritaDekhoCom | TobaPosCom | KBAA

Malaysia's Tabung Haji Buys Centrica's HQ in London

PHA3M --  Pilgrim fund Lembaga Tabung Haji (LTH) is believed to have bought the headquarters of Centrica, the parent company of British Gas, that is located in Windsor, Britain.

The purchase was done via syariah-compliant investment bank, Gatehouse, that is based in London.

Gatehouse’s intention to purchase the office building was reported in October 2016 by CoStar News.

Sources said Gatehouse, acting on behalf of LTH, completed the deal at the end of last year, purchasing Centrica headquarters for £56.25mil.

The purchase price represented an annual yield of 5.7%. Windsor is about 50km west of London.

According to sources, the seller was Britain-based TH Real Estate, one of the largest real estate investment managers in the world.

TH Real Estate manages about 80 funds and its mandates span both debt and equity across diverse geographies, sectors, investment styles and vehicle types, according to its website.

LTH did not respond to emails about the matter over the past two weeks.

A source said there are between seven and 10 years to the lease and the tenant has an option to renew it for the 121,320-sq-ft office building.

The source said it was “a good purchase” although valuations are pretty high today.

LTH is also said to be considering another purchase, 129 Wilton Road, London, which has a net lettable area of about 70,000 sq ft.

“They like it because it has a 5.25% net initial yield and a capital value of £1,072 per sq ft at this point,” the source said.

The asking price for the eight-storey building in Victoria is about £73mil. Its tenants include events organiser IQPC, with Premier Oil E&P being the main tenant.

While LTH is keen on buying, the Employees Provident Fund’s (EPF) Whitefriars, 65 Fleet Street, London, is on offer to a buyer for between £160mil and £165mil, according to a source.

The EPF had bought this property for £148mil from German-based fund Union Investment in 2011 and is asking £170mil for it. A property consultancy is acting on behalf of the EPF, a source confirmed last week.

The lease for the 225,000-sq-ft office is until 2021 and offers a yield of 5.75%. It is currently the headquarters of law firm Freshfields Bruckhaus Deringer, which has confirmed it would be moving out, said a source.

Whitefriars has been on the market since 2015, according to previous StarBiz reports.

According to sources in StarBiz’s reports in January, the Whitefriars building needs refurbishment works and would not be beneficial for the EPF to hold on to for the longer term.

“The EPF is a passive investor, not an active asset manager. It needs to pay dividends to contributors every year. The cost of refurbishment needed in Whitefriars represents a capital expenditure,” said a consultant.

Moreover, the refurbishment works would take a couple of years and the EPF may not have a tenant after that. Hence, it has the option to sell this building because there is still ‘a reasonable time remaining in the lease’.”

At the moment, the source said “Brexit is a consideration but not a concern. It may be in 2019. There are still a lot of investors from Asia, particularly from China. London properties will be attractive to Chinese money and Middle East oil money,” he said, adding that there was good value in Britain and the European continent.

The Financial Times reported on March 1 that Chinese company CC Land was in advanced talks to buy London’s “Cheesegrater” skyscraper for £1.02bil. The Hong Kong-listed group is seeking to buy out both British Land and Canada’s Oxford Properties. If completed, it will be the largest Chinese purchase of British property. (*)

Home | UD Paju Marbun | Sultan Group | IMECH | BeritaDekhoCom | TobaPosCom | KBAA

Featured News

Don't miss new info's

Subscribe here to get our newsletter in your inbox, it is safe and EASY!

PHA3M Home | UD Paju Marbun | Sultan Group | IMECH | BeritaDekhoCom | TobaPosCom | © 2014 - Designed by Templateism.com, Distributed By Templatelib