Sejarah

Haji

Kajian

Ijin

Umrah

Alumni

Cinderamata

Berita

Recent Posts

Senin, 09 Februari 2026

Konten Bersih dan Harapan Suriah

Fenomena baru muncul di berbagai kota Suriah dalam beberapa bulan terakhir. Media sosial dipenuhi video warga yang membersihkan jalan, mengecat trotoar, memperbaiki taman, hingga menata kembali fasilitas umum yang rusak akibat perang dan pengabaian panjang.

Konten-konten tersebut menarik perhatian luas. Jumlah penonton terus meningkat, komentar mengalir, dan akun-akun kreator lokal mulai dikenal lintas wilayah. Di tengah dominasi berita konflik, tayangan sederhana itu menawarkan wajah Suriah yang berbeda.

Para kreator ini berasal dari latar belakang beragam. Ada mahasiswa, pekerja lepas, mantan relawan kemanusiaan, hingga warga biasa yang hanya bermodal ponsel dan kemauan. Aksi mereka dilakukan di jalanan yang selama bertahun-tahun menjadi saksi kehancuran.

Banyak yang bertanya-tanya, apakah gelombang konten kebersihan ini lahir dari kesadaran sosial murni atau semata dorongan ekonomi digital. Pertanyaan itu mencerminkan keraguan yang wajar di era monetisasi media sosial.

Di lapangan, kesadaran sosial memang nyata terasa. Setelah bertahun-tahun hidup dalam konflik, kelelahan kolektif mendorong sebagian warga mencari bentuk kontribusi yang tidak politis dan tidak bersenjata. Membersihkan lingkungan menjadi bahasa yang paling netral.

Aksi bersih-bersih menawarkan hasil langsung yang bisa dirasakan. Jalan yang lebih rapi, taman yang kembali bisa dipakai anak-anak, dan fasilitas umum yang berfungsi kembali memberi rasa normal yang lama hilang.

Media sosial kemudian menjadi etalase dari upaya-upaya kecil itu. Kamera ponsel tidak hanya merekam aksi, tetapi juga menyebarkan pesan bahwa kehidupan sipil masih mungkin tumbuh di tengah keterbatasan.

Namun faktor ekonomi juga tak bisa diabaikan. Platform digital membuka peluang penghasilan melalui iklan, donasi, dan dukungan penonton. Bagi banyak warga Suriah, ini menjadi sumber pemasukan alternatif di tengah sempitnya lapangan kerja formal.

Monetisasi tidak selalu berarti kepura-puraan. Dalam konteks Suriah, mengubah aksi sosial menjadi konten berbayar sering dipandang sebagai cara bertahan hidup yang relatif sehat dan produktif.

Algoritma media sosial turut membentuk arah fenomena ini. Konten positif dengan visual perubahan nyata cenderung mendapat jangkauan luas. Kreator pun terdorong mengulang aksi serupa karena respons penonton yang besar.

Pola ini menciptakan lingkaran saling menguatkan. Kesadaran melahirkan konten, konten menghasilkan dukungan, dan dukungan memungkinkan aksi dilakukan kembali di lokasi lain.

Tak dapat dipungkiri, ada pula unsur performatif. Beberapa video dibuat dengan sudut dramatis dan narasi emosional. Namun meski niatnya campur, dampak fisik di lapangan tetap terlihat.

Fasilitas umum yang sebelumnya rusak kini kembali digunakan. Jalan-jalan tertentu menjadi lebih bersih dibanding tahun-tahun sebelumnya. Perubahan kecil ini memberi efek psikologis yang tidak sepele.

Fenomena serupa pernah terjadi di negara-negara pascakonflik lain. Inisiatif warga sering muncul lebih dulu sebelum negara sepenuhnya hadir melalui kebijakan dan anggaran.

Di Suriah, para kreator ini secara tidak langsung mengisi kekosongan peran tersebut. Mereka menjadi penghubung antara kebutuhan nyata di lapangan dan perhatian publik digital.

Penonton yang besar menunjukkan adanya kebutuhan kolektif akan narasi pemulihan. Masyarakat tampaknya ingin melihat tanda-tanda kehidupan sipil yang bergerak, meski perlahan.

Bagi generasi muda, konten kebersihan juga menjadi bentuk identitas baru. Mereka ingin dikenal bukan sebagai generasi perang, tetapi generasi yang merapikan kembali apa yang tersisa.

Pemerintah daerah di beberapa wilayah mulai memperhatikan tren ini. Meski belum terstruktur, gerakan warga semacam ini berpotensi menjadi mitra informal dalam pemulihan sosial.

Pertanyaan soal motif akhirnya menjadi kurang relevan ketika dampak positif terus terasa. Di negara yang lama dirundung krisis, ketulusan sering berjalan berdampingan dengan kebutuhan ekonomi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pemulihan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Kadang ia tumbuh dari sapu, cat tembok, dan kamera ponsel.

Di tengah reruntuhan lama, konten bersih-bersih itu menjadi penanda halus perubahan arah. Suriah pelan-pelan belajar membangun harapan, satu video dan satu jalan pada satu waktu.

Sabtu, 31 Januari 2026

Anggaran Menentukan Daya Pengaruh









Uni Eropa, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan Somalia sama-sama bergerak di panggung internasional, tetapi kemampuan mereka mencapai tujuan sangat ditentukan oleh satu faktor krusial: anggaran. Perbedaan sumber, besaran, dan stabilitas anggaran membuat daya pengaruh keempat entitas ini terpaut sangat jauh.

Uni Eropa berada di posisi teratas dalam hal kapasitas fiskal. Anggaran tahunan UE berada di kisaran ratusan miliar euro dan direncanakan dalam kerangka jangka panjang tujuh tahunan. Dana ini relatif stabil karena bersumber dari kontribusi wajib negara anggota berdasarkan kekuatan ekonomi masing-masing.

Kekuatan anggaran UE tidak hanya besar, tetapi juga terinstitusionalisasi. Negara anggota tidak sekadar menyumbang, melainkan menyepakati sistem redistribusi yang membuat negara kaya menjadi penyumbang bersih dan negara berkembang di Eropa menjadi penerima bersih. Dari sinilah proyek integrasi Eropa memperoleh daya dorong nyata.

Dengan anggaran tersebut, UE mampu membiayai infrastruktur lintas negara, subsidi pertanian, transisi energi, hingga bantuan luar negeri. Anggaran menjelma menjadi alat kebijakan dan soft power, baik ke dalam maupun ke luar kawasan.

Berbeda jauh dengan UE, PBB memiliki anggaran yang jauh lebih terbatas. Anggaran reguler PBB hanya berada di kisaran beberapa miliar dolar AS per tahun, meski anggaran total meningkat jika digabung dengan misi penjaga perdamaian dan badan-badan khusus.

Keterbatasan anggaran PBB diperparah oleh ketergantungan pada iuran negara anggota yang sering terlambat atau tidak dibayar penuh. Bahkan negara-negara besar kerap menunggak, membuat PBB harus menunda program atau memangkas operasi.

Akibatnya, pengaruh PBB lebih bersifat normatif dan diplomatik. PBB kuat dalam legitimasi hukum internasional, tetapi lemah dalam pemaksaan kebijakan tanpa dukungan negara besar. Anggaran yang kecil membatasi kemampuan PBB bertindak cepat dan tegas.

Organisasi Kerja Sama Islam berada di level yang lebih rendah lagi. Anggaran OKI sangat kecil jika dibandingkan UE maupun PBB, dan bergantung hampir sepenuhnya pada kontribusi sukarela negara anggota, terutama negara Teluk.

Kecilnya anggaran membuat OKI lebih berfungsi sebagai forum politik dan simbol solidaritas dunia Islam. Kemampuan implementasi kebijakan nyata, seperti pembangunan, bantuan kemanusiaan besar, atau stabilisasi konflik, sangat terbatas.

Dalam banyak kasus, peran OKI dalam isu global lebih bersifat pernyataan sikap ketimbang aksi langsung. Tanpa anggaran kuat, OKI sulit mengubah resolusi menjadi program nyata di lapangan.

Somalia berada pada kategori yang sama sekali berbeda. Sebagai negara, bukan organisasi internasional, Somalia justru tidak memiliki kemandirian anggaran yang memadai. Pemerintah pusat di Mogadishu sangat bergantung pada bantuan luar negeri.

Sebagian besar anggaran Somalia berasal dari donor internasional seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, PBB, dan lembaga keuangan global. Pendapatan domestik hanya mencakup sebagian kecil dari kebutuhan negara.

Yang lebih unik, anggaran pemerintah pusat Somalia bukan hasil iuran negara bagian. Negara-negara bagian justru memiliki anggaran sendiri dan sering kali lebih mandiri secara fiskal dibanding pusat.

Ketergantungan pada donor membuat kebijakan Somalia sangat dipengaruhi kepentingan eksternal. Prioritas anggaran sering mengikuti agenda pemberi bantuan, bukan sepenuhnya kebutuhan nasional jangka panjang.

Jika dibandingkan, Uni Eropa menggunakan anggaran sebagai alat integrasi dan pengaruh geopolitik. PBB menggunakan anggaran terbatas untuk menjaga legitimasi global dan misi perdamaian. OKI bertahan sebagai simbol politik tanpa daya fiskal. Somalia berjuang mempertahankan fungsi dasar negara dengan bantuan luar.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa besar kecilnya anggaran bukan sekadar angka, tetapi penentu kemampuan bertindak. UE bisa memaksa kepatuhan melalui insentif ekonomi, sementara PBB lebih mengandalkan konsensus.

OKI, tanpa dukungan anggaran memadai, kesulitan melampaui retorika. Somalia, tanpa kedaulatan fiskal, menghadapi tantangan besar membangun negara yang benar-benar mandiri.

Pada akhirnya, anggaran mencerminkan tingkat integrasi dan komitmen politik. Di UE, negara anggota rela “rugi” demi stabilitas bersama. Di PBB dan OKI, solidaritas sering berhenti pada deklarasi.

Kasus Somalia bahkan menunjukkan bahwa tanpa basis anggaran domestik, negara mudah kehilangan arah kebijakan. Ketergantungan fiskal berujung pada ketergantungan politik.

Perbandingan ini menegaskan satu hal mendasar: dalam politik global, tujuan besar membutuhkan kas yang besar dan stabil. Tanpa itu, pengaruh hanya tinggal wacana.

Federalisme UEA dan Irak Berbeda Arah

Uni Emirat Arab sering disebut negara federal, tetapi model yang diterapkan sangat berbeda dari federasi klasik. UEA terdiri dari tujuh keemiran yang masing-masing dipimpin emir, namun struktur fiskalnya sangat tersentralisasi dalam praktik negara.

Dalam UEA, keemiran tidak membayar iuran formal ke pemerintah federal seperti negara anggota Uni Eropa. Sebaliknya, anggaran negara secara de facto ditopang oleh Abu Dhabi, yang memiliki cadangan minyak dan gas terbesar.

Abu Dhabi menjadi tulang punggung fiskal negara, membiayai pertahanan, diplomasi, proyek strategis, dan berbagai subsidi federal. Dubai dan keemiran lain berkontribusi melalui aktivitas ekonomi dan pajak tertentu, tetapi tanpa skema iuran wajib yang baku.

Model ini menciptakan federalisme berbasis patronase, di mana keemiran kaya menopang keemiran lain demi stabilitas dan kesatuan negara. Legitimasi tidak dibangun lewat redistribusi formal, melainkan konsensus elite dan kepemimpinan dinasti.

Berbeda dengan UEA, Irak menerapkan federalisme konstitusional dengan pembagian kewenangan yang lebih jelas di atas kertas. Pemerintah pusat di Baghdad menguasai anggaran nasional, sementara provinsi dan wilayah otonom menerima alokasi dari pusat.

Provinsi-provinsi Irak tidak membayar iuran ke Baghdad. Sebaliknya, mereka bergantung pada transfer anggaran pusat, terutama dari pendapatan minyak nasional yang dikelola pemerintah federal.

Wilayah Kurdistan Irak menjadi pengecualian sekaligus sumber friksi. Kurdistan memiliki pemerintahan, parlemen, dan aparat sendiri, tetapi secara formal tetap menerima anggaran dari Baghdad, bukan menyetor iuran.

Masalah muncul ketika Kurdistan mengekspor minyak secara mandiri. Baghdad menilai pendapatan itu seharusnya masuk kas nasional, sementara Erbil menganggapnya hak otonomi. Konflik fiskal ini berulang dan memengaruhi pembayaran gaji serta stabilitas politik.

Jika dibandingkan, UEA adalah federasi dengan pusat kuat karena satu keemiran dominan menopang negara. Irak adalah federasi dengan pusat formal kuat, tetapi daerah sering menantang otoritas fiskal pusat.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa federalisme tidak selalu soal iuran. Di UEA, stabilitas datang dari solidaritas elite kaya. Di Irak, ketegangan justru lahir dari perebutan pendapatan dan legitimasi fiskal.

Jumat, 05 September 2025

Sudan dan Sudan Selatan, Konflik yang Serupa Tapi Berbeda


Sudan dan Sudan Selatan sama-sama tercatat dalam peta konflik paling rumit di Afrika modern. Meski berbagi sejarah panjang sebagai satu negara sebelum perpisahan pada 2011, dinamika pertikaian yang mereka hadapi kini memiliki ciri khas masing-masing. Kesamaan dan perbedaan dalam konflik tersebut memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas politik di kawasan.

Sudan saat ini diguncang oleh perebutan kekuasaan antara dua jenderal besar, Abdel Fattah al-Burhan dari angkatan darat dan Mohamed Hamdan Dagalo alias Hemedti dari Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Sementara Sudan Selatan tidak kalah pelik, di mana Presiden Salva Kiir dan mantan wakilnya, Riek Machar, menjadi simbol perpecahan politik sekaligus etnis.

Kesamaan pertama yang jelas terlihat adalah dominasi elit dalam memicu konflik. Di kedua negara, perseteruan bukan semata soal ideologi, melainkan pertarungan personal dan kelompok elit untuk merebut kendali negara. Akibatnya, rakyat sipil menjadi korban dari ambisi para penguasa yang gagal membangun konsensus.

Selain faktor elit, konflik di kedua negara juga sarat dengan dimensi etnis dan regional. Di Sudan Selatan, garis perpecahan tegas antara etnis Dinka yang dipimpin Kiir dan etnis Nuer yang bernaung di bawah Machar. Di Sudan, meski basis konfliknya militer, dimensi etnis juga muncul, terutama karena RSF berakar dari milisi Arab Darfur.

Dampak kemanusiaan menjadi sisi lain dari kesamaan keduanya. Perang di Sudan telah menimbulkan jutaan pengungsi internal maupun lintas batas. Begitu pula di Sudan Selatan, gelombang pengungsian sejak perang saudara 2013 hingga kini masih membekas. Ribuan orang kehilangan nyawa, sementara jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Meski sama-sama lahir dari ambisi elit, pola konflik di kedua negara berbeda secara mendasar. Sudan menghadapi perang saudara untuk mempertahankan satu negara utuh, di mana dua kekuatan militer berebut kendali atas Khartoum dan institusi negara.

Sebaliknya, Sudan Selatan menghadapi perang saudara pasca-kemerdekaan. Konflik pecah di tubuh partai berkuasa yang gagal mengelola transisi dari perjuangan kemerdekaan ke pemerintahan stabil. Perpecahan politik yang awalnya sempit melebar menjadi konflik etnis besar-besaran.

Perbedaan lain terlihat pada tujuan awal perang. Sudan Selatan terbakar oleh perpecahan internal dan isu representasi etnis dalam pemerintahan. Sudan justru terjerumus perang karena gagalnya transisi menuju pemerintahan sipil, memicu bentrokan langsung antara dua kekuatan bersenjata.

Konflik di Sudan berfokus pada perebutan negara yang masih utuh, sedangkan konflik di Sudan Selatan menunjukkan kerentanan negara baru yang gagal membangun fondasi politik inklusif setelah kemerdekaan. Dua jalur berbeda, namun sama-sama berakhir dalam lingkaran kekerasan.

Perbedaan pola ini memberi dampak berbeda pula pada prospek perdamaian. Di Sudan, solusi sangat tergantung pada apakah militer dapat ditekan untuk menyerahkan kekuasaan pada pemerintahan sipil. Di Sudan Selatan, perdamaian menuntut rekonsiliasi etnis yang jauh lebih rumit karena akar masalahnya tertanam di masyarakat.

Namun, persamaannya tetap kentara: baik Sudan maupun Sudan Selatan gagal melahirkan kepemimpinan yang mampu melampaui kepentingan pribadi dan kelompok. Elit terus menggunakan etnisitas sebagai senjata politik untuk mempertahankan pengaruh.

Kedua negara juga terjebak dalam krisis ekonomi yang memperparah penderitaan rakyat. Infrastruktur hancur, distribusi pangan terganggu, dan pelayanan publik lumpuh. Kondisi ini memperpanjang krisis kemanusiaan yang sudah parah.

Peran internasional pun berbeda. Sudan Selatan lebih sering mendapat campur tangan dari lembaga internasional melalui misi perdamaian PBB. Sudan, sebaliknya, kini lebih banyak ditinggalkan, dengan konflik yang kian membesar tanpa solusi global yang efektif.

Kendati demikian, komunitas internasional memandang kedua negara sebagai sumber ketidakstabilan regional. Gelombang pengungsi, arus senjata, dan potensi radikalisasi bisa menyebar ke negara tetangga, sehingga menambah dimensi regional dalam konflik ini.

Secara historis, Sudan dan Sudan Selatan memang dipisahkan oleh perbedaan budaya, agama, dan etnis. Namun ironisnya, setelah berpisah pun keduanya tetap dipersatukan oleh nasib yang sama: gagal mengakhiri lingkaran kekerasan internal.

Pengamat menilai bahwa keberhasilan perdamaian di Sudan bisa menjadi inspirasi bagi Sudan Selatan, atau sebaliknya. Namun, jalan menuju rekonsiliasi di kedua negara masih panjang karena tidak hanya membutuhkan perjanjian politik, tetapi juga rekonstruksi sosial dan ekonomi.

Tanpa perubahan mendasar, konflik hanya akan berulang dalam siklus yang sama. Sejarah menunjukkan, baik Sudan maupun Sudan Selatan sudah berkali-kali menandatangani kesepakatan damai, namun selalu gagal diimplementasikan secara konsisten.

Pada akhirnya, persamaan paling besar dari konflik Sudan dan Sudan Selatan adalah bahwa rakyat selalu menjadi korban. Kehidupan sehari-hari dipenuhi ketakutan, kekurangan, dan penderitaan, sementara elit sibuk bertikai demi kekuasaan.

Perbedaan paling mencolok adalah alasan mengapa mereka bertikai. Sudan bertempur untuk mempertahankan kontrol atas negara yang mapan, sementara Sudan Selatan bertikai karena gagal mengelola negara baru. Dua sisi dari mata uang yang sama, dengan beban rakyat sebagai taruhannya.

Sudan dan Sudan Selatan dengan demikian menjadi cermin kegagalan kepemimpinan Afrika modern. Perjalanan panjang mereka menunjukkan bahwa perpisahan negara bukanlah akhir konflik, melainkan awal dari babak baru pertarungan elit yang tak kunjung usai.


Featured News

PHA3M Home | UD Paju Marbun | Sultan Group | IMECH | BeritaDekhoCom | TobaPosCom | © 2014 - Designed by Templateism.com, Distributed By Templatelib