Fenomena baru muncul di berbagai kota Suriah dalam beberapa bulan terakhir. Media sosial dipenuhi video warga yang membersihkan jalan, mengecat trotoar, memperbaiki taman, hingga menata kembali fasilitas umum yang rusak akibat perang dan pengabaian panjang.
Konten-konten tersebut menarik perhatian luas. Jumlah penonton terus meningkat, komentar mengalir, dan akun-akun kreator lokal mulai dikenal lintas wilayah. Di tengah dominasi berita konflik, tayangan sederhana itu menawarkan wajah Suriah yang berbeda.
Para kreator ini berasal dari latar belakang beragam. Ada mahasiswa, pekerja lepas, mantan relawan kemanusiaan, hingga warga biasa yang hanya bermodal ponsel dan kemauan. Aksi mereka dilakukan di jalanan yang selama bertahun-tahun menjadi saksi kehancuran.
Banyak yang bertanya-tanya, apakah gelombang konten kebersihan ini lahir dari kesadaran sosial murni atau semata dorongan ekonomi digital. Pertanyaan itu mencerminkan keraguan yang wajar di era monetisasi media sosial.
Di lapangan, kesadaran sosial memang nyata terasa. Setelah bertahun-tahun hidup dalam konflik, kelelahan kolektif mendorong sebagian warga mencari bentuk kontribusi yang tidak politis dan tidak bersenjata. Membersihkan lingkungan menjadi bahasa yang paling netral.
Aksi bersih-bersih menawarkan hasil langsung yang bisa dirasakan. Jalan yang lebih rapi, taman yang kembali bisa dipakai anak-anak, dan fasilitas umum yang berfungsi kembali memberi rasa normal yang lama hilang.
Media sosial kemudian menjadi etalase dari upaya-upaya kecil itu. Kamera ponsel tidak hanya merekam aksi, tetapi juga menyebarkan pesan bahwa kehidupan sipil masih mungkin tumbuh di tengah keterbatasan.
Namun faktor ekonomi juga tak bisa diabaikan. Platform digital membuka peluang penghasilan melalui iklan, donasi, dan dukungan penonton. Bagi banyak warga Suriah, ini menjadi sumber pemasukan alternatif di tengah sempitnya lapangan kerja formal.
Monetisasi tidak selalu berarti kepura-puraan. Dalam konteks Suriah, mengubah aksi sosial menjadi konten berbayar sering dipandang sebagai cara bertahan hidup yang relatif sehat dan produktif.
Algoritma media sosial turut membentuk arah fenomena ini. Konten positif dengan visual perubahan nyata cenderung mendapat jangkauan luas. Kreator pun terdorong mengulang aksi serupa karena respons penonton yang besar.
Pola ini menciptakan lingkaran saling menguatkan. Kesadaran melahirkan konten, konten menghasilkan dukungan, dan dukungan memungkinkan aksi dilakukan kembali di lokasi lain.
Tak dapat dipungkiri, ada pula unsur performatif. Beberapa video dibuat dengan sudut dramatis dan narasi emosional. Namun meski niatnya campur, dampak fisik di lapangan tetap terlihat.
Fasilitas umum yang sebelumnya rusak kini kembali digunakan. Jalan-jalan tertentu menjadi lebih bersih dibanding tahun-tahun sebelumnya. Perubahan kecil ini memberi efek psikologis yang tidak sepele.
Fenomena serupa pernah terjadi di negara-negara pascakonflik lain. Inisiatif warga sering muncul lebih dulu sebelum negara sepenuhnya hadir melalui kebijakan dan anggaran.
Di Suriah, para kreator ini secara tidak langsung mengisi kekosongan peran tersebut. Mereka menjadi penghubung antara kebutuhan nyata di lapangan dan perhatian publik digital.
Penonton yang besar menunjukkan adanya kebutuhan kolektif akan narasi pemulihan. Masyarakat tampaknya ingin melihat tanda-tanda kehidupan sipil yang bergerak, meski perlahan.
Bagi generasi muda, konten kebersihan juga menjadi bentuk identitas baru. Mereka ingin dikenal bukan sebagai generasi perang, tetapi generasi yang merapikan kembali apa yang tersisa.
Pemerintah daerah di beberapa wilayah mulai memperhatikan tren ini. Meski belum terstruktur, gerakan warga semacam ini berpotensi menjadi mitra informal dalam pemulihan sosial.
Pertanyaan soal motif akhirnya menjadi kurang relevan ketika dampak positif terus terasa. Di negara yang lama dirundung krisis, ketulusan sering berjalan berdampingan dengan kebutuhan ekonomi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pemulihan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Kadang ia tumbuh dari sapu, cat tembok, dan kamera ponsel.
Di tengah reruntuhan lama, konten bersih-bersih itu menjadi penanda halus perubahan arah. Suriah pelan-pelan belajar membangun harapan, satu video dan satu jalan pada satu waktu.




0 comments:
Posting Komentar